Aksara Jawa, dikenal juga sebagai
Hanacaraka dan
Carakan adalah salah satu
aksara tradisional
Nusantara yang digunakan untuk menulis
bahasa Jawa dan sejumlah bahasa daerah
Indonesia lainnya seperti
bahasa Sunda dan
bahasa Sasak Tulisan ini berkerabat dekat dengan
aksara Bali.
Dalam sehari-hari, penggunaan aksara Jawa umum digantikan dengan
huruf Latin yang pertama kali dikenalkan Belanda pada abad ke-19. Aksara Jawa resmi dimasukkan dalam
Unicode versi 5.2 sejak 2009. Meskipun begitu, kompleksitas aksara Jawa hanya dapat ditampilkan dalam program dengan teknologi
Graphite SIL, seperti browser Firefox dan beberapa prosesor kata
open source,
sehingga penggunaannya tidak semudah huruf Latin. Kesulitan penggunaan
aksara Jawa dalam media digital merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan kurang populernya aksara tersebut selain di kalangan
preservasionis.
CIRI-CIRI
Aksara Jawa adalah sistem tulisan
Abugida yang ditulis dari kiri ke kanan. Setiap aksara di dalamnya melambangkan suatu suku kata dengan vokal
/a/ atau
/ɔ/, yang dapat ditentukan dari posisi aksara di dalam kata tersebut. Penulisan aksara Jawa dilakukan tanpa spasi (
scriptio continua), dan karena itu pembaca harus paham dengan teks bacaan untuk dapat membedakan tiap kata. Selain itu, dibanding dengan alfabet
Latin, aksara Jawa juga kekurangan tanda baca dasar, seperi titik dua, tanda kutip, tanda tanya, tanda seru, dan tanda hubung.
Aksara Jawa dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan fungsinya.
Aksara dasar terdiri dari 20 suku kata yang digunakan untuk menulis
bahasa Jawa modern, sementara jenis lain meliputi aksara suara, tanda baca, dan angka Jawa.
Setiap suku kata dalam aksara Jawa memiliki dua bentuk, yang disebut
nglegena (aksara telanjang), dan pasangan (ini adalah bentuk subskrip
yang digunakan untuk menulis gugus konsonan).
Kebanyakan aksara selain aksara dasar merupakan konsonan teraspirasi atau
retrofleks yang digunakan dalam
bahasa Jawa Kuno karena dipengaruhi
bahasa Sanskerta. Selama perkembangan bahasa dan aksara Jawa, huruf-huruf ini kehilangan representasi suara aslinya dan berubah fungsi.
Sejumlah tanda diakritik yang disebut
sandhangan berfungsi untuk mengubah vokal (layaknya
harakat pada
abjad Arab), menambahkan konsonan akhir, dan menandakan ejaan asing. Beberapa tanda diakritik dapat digunakan bersama-sama, namun tidak semua kombinasi diperbolehkan.
SEJARAH
Tulisan Jawa dan Bali adalah perkembangan modern
aksara Kawi, salah satu turunan
aksara Brahmi
yang berkembang di Jawa. Pada masa periode Hindu-Buddha, aksara
tersebut terutama digunakan dalam literatur keagamaan dan terjemahan
Sanskerta yang biasa ditulis dalam naskah daun
lontar.Selama periode Hindu-Buddha, bentuk aksara Kawi berangsur-angsur
menjadi lebih Jawa, namun dengan ortografi yang tetap. Pada abad ke-17,
tulisan tersebut telah berkembang menjadi bentuk modernnya dan dikenal
sebagai
Carakan atau
hanacaraka berdasarkan lima aksara pertamanya.
Carakan terutama digunakan oleh penulis dalam lingkungan kraton kerajaan seperti
Surakarta dan
Yogyakarta untuk menulis naskah berbagai subjek, di antaranya cerita-cerita (
serat), catatan sejarah (
babad), tembang kuno (
kakawin), atau ramalan (
primbon). Subjek yang populer akan berkali-kali ditulis ulang.
Naskah umum dihias dan jarang ada yang benar-benar polos. Hiasan dapat
berupa tanda baca yang sedikit dilebih-lebihkan atau pigura halaman
(disebut
wadana) yang rumit dan kaya warna.
Pada tahun 1926, sebuah
lokakarya di
Sriwedari,
Surakarta menghasilkan
Wewaton Sriwedari (Ketetapan Sriwedari), yang merupakan landasan awal standarisasi ortografi aksara Jawa.Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak panduan mengenai aturan dan ortografi baku aksara Jawa yang dipublikasikan, di antaranya
Patokan Panoelise Temboeng Djawa oleh
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada 1946,dan sejumlah panduan yang dibuat oleh Kongres Bahasa Jawa (KBJ) antara 1991 sampai 2006.
KBJ juga berperan dalam implementasi aksara Jawa di
Unicode.
Namun dari itu, penggunaan aksara Jawa telah menurun sejak ortografi Jawa berbasis huruf latin ditemukan pada 1926,dan sekarang lebih umum menggunakan huruf latin untuk menulsi bahasa
Jawa. Hanya beberapa majalah dan koran yang masih mencetak dalam aksara
Jawa, seperti
Jaka Lodhang. Aksara Jawa masih diajarkan sebagai
muatan lokal pada sekolah dasar dan sekolah menengah di provinsi yang berbahasa Jawa.
AKSARA
Sebuah
aksara adalah satuan terkecil yang merepresentasikan suku kata terbuka
(Konsonan-Vokal) dengan vokal /a/ atau /ɔ/ tergantung dari posisinya.Namun vokal juga tergantung dari dialek pembicara; dialek Jawa Barat
cenderung menggunakan /a/ sementara dialek Jawa Timur lebih cenderung
menggunakan /ɔ/. Aturan baku penentuan vokal aksara dideskripsikan dalam
Wewaton Sriwedari sebagai berikut:
- Sebuah aksara dibaca dengan vokal /ɔ/ apabila aksara sebelumnya mengandung sandhangan swara.
- Sebuah aksara dibaca dengan vokal /a/ apabila aksara setelahnya mengandung sandhangan swara.
- Aksara pertama sebuah kata umumnya dibaca dengan vokal /ɔ/, kecuali dua aksara setelahnya merupakan aksara dasar. Jika begitu, aksara tersebut dibaca dengan vokal /a/.
Ketika ditransliterasikan ke dalam alfabet
Latin, sebuah aksara ditransliterasikan menjadi suku kata, bukan huruf.
Terdapat 34 aksara konsonan dan 11 aksara suara (vokal) dalam aksara
Jawa (di luar aksara tambahan), namun tidak semuanya digunakan dalam
penulisan modern. Tabel berikut menunjukkan aksara Jawa dengan bunyi
aslinya yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta:
^1 Hanya ditemukan dalam bentuk pasangan (lihat di bawah). Bentuk aslinya sudah tidak diketahui lagi
^2 Ḍa dan ṭa lebih umum ditulis dha dan tha. Penulisan ini digunakan untuk membedakan dha (ɖa) dan tha (ʈa) retroflex dalam bahasa Jawa modern dengan dha (d̪ha) dan tha (t̪ha) teraspirasi dalam bahasa Jawa kuno.
^3 Sebenarnya konsonan alveolar, namun diklasifikasikan sebagai dental (gigi).
^4 Dapat dibaca tanpa bunyi /h/, misalnya (/ɔnɔ/, transliterasi: ana, arti: ada)
Ortografi Jawa modern mengabaikan pelafalan asli sejumlah aksara
konsonan yang kemudian dialihfungsikan. Dari 34 bunyi di atas, 20 bunyi
menjadi aksara dasar (
nglegéna) sementara aksara lainnya dikategorikan sebagai
murda dan
mahaprana, dengan "bunyi" yang sama dengan aksara nglegenanya.
Beberapa istilah dalam aksara Jawa menurut aturan bahasa Jawa modern:
- Aksara nglegéna adalah aksara dasar untuk menulis bahasa Jawa modern.
- Aksara murda atau aksara gedé
digunakan pada penulisan suatu nama, umumnya nama tempat atau orang
yang dihormati. Seperti terlihat dalam tabel di atas, tidak semua aksara
mempunyai bentuk murda, karena itu apabila suku kata pertama suatu nama tidak memiliki bentuk murda, maka suku kata kedua yang menggunakan murda. Apabila suku kata kedua juga tidak memiliki bentuk murda, maka suku kata ketiga yang menggunakan murda, begitu seterusnya. Nama yang sangat dihormati dapat ditulis seluruhnya dengan murda apabila memungkinkan. Misal, "Pakubuwana" ditulis dengan pa, ka, ba, dan na murda. Aksara murda tidak boleh diberi pangkon dan tidak perlu digunakan pada awal kalimat.
- Aksara mahaprana adalah aksara yang secara harfiah berarti "dibaca dengan nafas berat". Mahaprana jarang muncul dalam penulisan aksara Jawa modern, oleh karena itu seringkali tidak dibahas dalam buku mengenai aksara Jawa.
| Aksara Wyanjana (Konsonan) |
| Transkripsi |
ha |
na |
ca |
ra |
ka |
da |
ta |
sa |
wa |
la |
pa |
dha |
ja |
ya |
nya |
ma |
ga |
ba |
tha |
nga |
| Nglegéna |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Murda |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Mahaprana |
|
|
|
|
|
|
|
|
^1 Awalnya jnya, namun pada perkembangannya menjadi huruf mandiri
Konsonan tambahan
Terdapat beberapa aksara yang dalam perkembangannya dianggap sebagai konsonan.
Pa cerek,
nga lelet, dan
nga lelet raswadi awalnya adalah konsonan-vokalik /r̥/, /l̥/, dan /l̥:/ yang muncul pada perkembangan awal aksara Jawa karena pengaruh
bahasa Sanskerta. Ortografi kontemporer mengelompokkan ketiganya sebagai aksara konsonan
yang bernama
ganten
atau "pengganti", dengan bunyi masing-masing /ɽə/, /ɭə/, dan /ɭɤ/.
Aksara ini didefinisikan sebagai aksara dengan vokal tetap yang
menggantikan setiap kombinasi
ra+pepet ( menjadi ),
la+pepet (menjadi ), dan
la+pepet+tarung (menjadi ). Karena sudah memiliki vokal tetap, ketiga aksara tersebut tidak dapat dipasangkan dengan tanda baca vokal.
Konsonanan tambahan lain meliputi
ka sasak dan
ra agung.
Ka sasak merupakan penulisan tradisional bunyi /qa/ yang digunakan dalam
bahasa Sasak, sedangkan
ra agung pernah digunakan oleh sejumlah penulis untuk nama orang yang dihormati, terutama anggota kerajaan.
Kebanyakan bunyi yang asing dalam
bahasa Jawa ditulis dengan tanda baca
cecak telu di atas aksara yang bunyinya mendekati.Aksara semacam itu disebut sebagai
aksara rekan atau "aksara rekaan", yang diklasifikan berdasarkan bahasa asalnya.
Rekan paling umum berasal dari
bahasa Arab dan
bahasa Belanda. Terdapat pula dua jenis
rekan lainnya yang digunakan untuk menulis
bahasa Sunda dan kata serapan
bahasa Tionghoa.
| Aksara Tambahan |
| Ganten |
Ka sasak |
Ra agung |
| Nga lelet |
Nga lelet Raswadi |
Pa cerek |
|
|
|
|
|
| Aksara Rekan |
| kha |
dza |
fa |
va |
za |
gha |
|
|
|
|
|
|
Vokal
Vokal murni umumnya ditulis dengan aksara
ha sebagai konsonan kosong dengan tanda baca yang sesuai.
| Aksara Suara |
|
a |
i |
u |
é |
o |
| Pendek |
|
|
|
|
|
Selain cara tersebut, terdapat juga aksara-aksara yang merepresentasikan vokal murni bernama
aksara swara atau "aksara suara" yang digunakan untuk menandakan sebuah nama, seperti halnya aksara
murda. Sebagai contoh, kata sifat "ayu" (cantik) ditulis dengan huruf
ha. Namun untuk menulis seseorang yang bernama Ayu, aksara suara digunakan untuk mencegah kerancuan. Aksara suara juga digunakan untuk mengeja istilah bahasa asing, misalnya elemen
Argon (Aksara suara tidak dapat dijadikan sebagai aksara pasangan sehingga aksara
sigegan yang terdapat di depannya harus dimatikan dengan pangkon. Walaupun demikian aksara suara dapat diberi
sandhangan wignyan, layar, dan cecak.
| Aksara Suara |
|
a |
i |
u |
é |
o |
| Pendek |
|
|
|
|
|
| Panjang |
|
|
|
|
|
^1 Dalam teks tua, aksara swara i digunakan untuk /i:/ panjang, sementara /i/ pendek menggunakan sebuah huruf yang sekarang dikenal sebagai i kawi .
^2 Menjadi sebuah diftong.
Sandhangan
Sandhangan adalah sejenis aksara yang tidak dapat berdiri sendiri, melainkan
merupakan tanda diakritik yang selalu digunakan bersama dengan aksara
dasar. Ada tiga macam sandhangan, yaitu sandhangan suara yang berfungsi
untuk mengubah vokal huruf dasar, layaknya
harakat pada
abjad Arab,
sandhangan sesigeg (sandhangan akhir suku kata), dan
sandhangan wyanjana (sandhangan tengah suku kata).
Suara
Sandhangan swara atau sandhangan vokal merupakan sandhangan yang paling umum. Terdapat sembilan
sandhangan swara, namun vokal tertentu perlu ditulis dengan lebih dari satu sandhangan, kondisi ini terutama umum terjadi pada
sandhangan tarung. Sandhangan swara dapat digunakan bersama sandhangan wyanjana.
| Sandhangan swara |
|
a |
i |
u |
e |
é |
o |
| Pendek |
|
wulu |
suku |
pepet |
taling |
taling tarung |
tolong |
| Panjang |
tarung |
wulu melik |
suku mendhut |
pepet-tarung |
dirga mure |
dirga mure tarung |
^1 Pasangan ka, ta, dan la, yang menempel dengan suku dan suku mendhut berubah bentuknya menjadi aksara dasar.
^2 Aksara 'ra' dan 'la' tidak dapat dipasangkan dengan pepet (lihat bagian konsonan tambahan).
^3 Hanya digunakan pada penulisan Sunda.
^4 Menjadi sebuah diftong.
Sesigeg
Sandhangan sesigeg panyangga,
cecak, dan
wignyan memiliki fungsi yang sama seperti halnya karakter
Devanagari candrabindu,
anuswara, dan
wisarga. Sandhangan sesigeg boleh digunakan bersama dengan sandhangan suara.
| Sandhangan Sesigeg |
| -m |
-ng |
-h |
-r |
panyngga |
cecak |
wignyan |
layar |
^1 Panyangga umumnya hanya digunakan untuk simbol suci Hindu Om.
^2 Posisi sedikit berubah apabila digunakan bersama dengan wulu dan pepet. Cecak berada di sebelah kanan wulu dan ditulis di dalam pepet
Wyanjana
Sandhangan wyanjana cakra,
cakra keret, dan
pengkal
berfungsi untuk membentuk gugus konsonan -ra, -re, dan -ya (misalnya
"kra", "kre", dan "kya"). Ketiga sandhangan ini awalnya adalah pasangan
dari aksara ra, pa cerek, dan ya sebelum dikhususkan menjadi sandhangan
tersendiri dalam ortografi Jawa moderen.
Sebagai sebuah pasangan, sandhangan wyanjana bersamaan dengan pasangan wa memiliki sifat
panjingan, yaitu pasangan yang dapat menempel pada pasangan lain membentuk tiga tumpuk aksara.
| Sandhangan Wyanjana |
| -ra- |
-re- |
-ya- |
| cakra |
keret |
pengkal |
^1 Cakra aslinya terpisah dari aksara, namun lebih umum ditulis menyambung dengan bagian depan aksara seperti pada contoh diatas.
Pangkon dan pasangan
Pangkon memiliki fungsi yang sama seperti halnya
virama dalam
aksara Brahmi lain, yakni membentuk konsonan akhir dengan menghilangkan vokal inheren suatu huruf dasar. Namun
pangkon
tidak boleh digunakan untuk konsonan akhir -r, -h, dan -ng karena
ketiganya dapat ditulis dengan tanda baca tersendiri. Misal, konsonan
akhir -r ditulis dengan
layar, tidak boleh dengan
ra dan
pangkon.
Pangkon juga hanya boleh dipakai di akhir kalimat, dan apabila
aksara mati terjadi di tengah kalimat, aksara tersebut perlu ditempeli
dengan
pasangan. Misal, aksara
na yang dipasangkan dengan
pasangan da, akan dibaca
nda.Pasangan dianggap sebagai varian dari glif aksara dasar, karena itu suatu aksara dan
pasangannya
memiliki kode unicode yang sama. Pasangan akan terbentuk apabila aksara
didahului oleh pangkon, misalnya "pasangan da" diketik dengan menulis
"pangkon+da"
menjadi
Pasangan dapat diberi
sandhangan, seperti halnya aksara dasar,
dengan beberapa pengecualian pada penempatan. Sandhangan yang berada di
atas diletakkan di atas aksara dasar, sementara sandhangan yang berada
di bawah diletakkan di bawah pasangan. Sandhangan yang berada sebelum
dan/atau sesudah aksara dipasang segaris dengan aksara. Sebuah aksara
hanya boleh ditempel dengan satu pasangan, atau satu pasangan dengan
satu
panjingan.
Tatacara penulisan Jawa Hanacaraka tidak mengenal spasi (
''Scriptio continua''), sehingga penggunaan pasangan dapat memperjelas kluster kata.
| Pasangan Wyanjana |
| Transkripsi |
ha |
na |
ca |
ra |
ka |
da |
ta |
sa |
wa |
la |
pa |
dha |
ja |
ya |
nya |
ma |
ga |
ba |
tha |
nga |
| Nglegéna |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Murda |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Mahaprana |
|
|
|
|
|
|
|
|
| Tambahan |
Ganten |
Ka sasak |
Ra agung |
| Nga lelet |
Nga lelet Raswadi |
Pa cerek |
|
|
|
|
|
^1 Ada dua pendapat mengenai pasangan nga-lelet. Pendapat pertama:
pasangan nga lelet adalah nga lelet yang diletakkan di bawah aksara
nglegena, sehingga menyerupai aksara yang bertumpuk tiga (nga dan
pasangan na). Pendapat kedua: pasangan nga lelet adalah pasanga la yang
diberi pepet
Aksara numeral
Sistem angka Jawa mempunyai numeralnya sendiri, yang hanya terdiri dari angka 0–9 sebagai berikut:
| Angka |
| Angka Arab |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
0 |
| Angka Jawa |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Nama |
siji |
loro |
telu |
papat |
lima |
nem |
pitu |
wolu |
sanga |
nol |
Lebih dari separuh angka Jawa memiliki bentuk yang mirip dengan karakter silabel Jawa, yaitu 1 dengan
ga , 2 dengan
nga lelet , 6 dengan
Aksara E , 7 dengan
la , 8 dengan
pa murda , dan 9 dengan
ya ꦪ. Untuk menghindari kerancuan, angka yang muncul dalam teks diapit dengan penanda angka yang disebut
pada pangkat. Misal, "Selasa 19 Maret 2013" ditulis dengan
supaya tidak dibaca "Selasa
gaya Maret 2013"
Untuk menulis angka yang lebih besar dari 9, gabungkan dua angka atau lebih di atas seperti halnya
angka Arab. Misal, 21 ditulis dengan menggabungkan 2 dan 1 menjadi; Dengan cara kerja yang sama, 90 ditulis dengan
Terkadang,
pada lungsi digunakan sebagai penanda angka.Dewasa ini angka Jawa hampir selalu digantikan dengan
angka Arab untuk menghindari kemiripan dan mempermudah penghitungan matematika.
Tanda baca
Dalam aksara Jawa, tanda baca yang tersedia hanya
koma,
titik, dan pengapit (berfungsi sebagai
tanda kurung atau
tanda petik, dengan perbedaan aturan penulisan). Dibanding dengan alfabet Latin, aksara Jawa tidak memiliki
tanda seru,
tanda tanya,
tanda hubung,
garis miring,
titik dua,
titik koma,
petik tunggal maupun simbol-simbol matematika umum, seperti
tambah,
kurang,
sama dengan. Namun aksara Jawa memiliki tanda baca-tanda baca khusus yang tidak terdapat dalam sistem penulisan lainnya.
Secara sederhana, tanda baca dapat dibedakan menjadi dua: umum dan
khusus. Tanda baca umum digunakan di penulisan biasa, sementara tanda
baca khusus digunakan dalam penulisan karya sastra (puisi, dll.)
| Tanda baca umum |
| Simbol |
Nama |
Fungsi |
|
Pada adeg |
Tanda kurung atau petik |
|
Pada adeg-adeg |
Mengawali suatu paragraf |
|
Pada piseleh |
Berfungsi seperti halnya pada adeg |
|
Pada piseleh terbalik |
Berfungsi seperti halnya pada adeg |
|
Pada lingsa |
Koma1 atau tanda singkatan |
|
Pada lungsi |
Titik |
|
Pada pangkat |
Tanda angka2 atau titik dua |
|
Pada rangkep |
Tanda penggandaan kata |
|
| Tanda baca khusus (tunggal) |
| Simbol |
Nama |
Fungsi |
|
Rerengan kiwa lan tengen |
Mengapit judul |
|
Pada luhur |
Mengawali sebuah surat untuk orang yang lebih tua atau berderajat lebih tinggi |
|
Pada madya |
Mengawali sebuah surat untuk orang yang sebaya atau berderajat sama |
|
Pada andhap |
Mengawali sebuah surat untuk orang yang lebih muda atau berderajat lebih rendah |
| Tanda baca khusus (kombinasi) |
|
Pada guru |
Mengawali sebuah surat tanpa membedakan umur atau derajat |
|
Pada pancak |
Mengakhiri suatu surat |
atau
|
Purwapada |
Mengawali sebuah tembang atau puisi |
|
Madyapada |
Menandakan bait baru |
|
Wasanapada |
Mengakhiri tembang atau puisi. |
|
^1 Terdapat dua peraturan khusus mengenai penggunaan koma.
- a. Koma tidak ditulis setelah kata yang berujung pangkon.
- b. Koma menjadi titik apabila tetap ditulis setelah pangkon.
^2 Lihat aksara numeral di atas.
^3 Fungsinya mirip seperti simbol 2 atau 2 dalam ortografi bahasa Indonesia lama yang menandakan kata berulang, misal pada kata "orang2" (orang-orang). Karakter ini pada dasarnya adalah angka Arab
dua (٢), namun tidak memiliki fungsi angka dalam aksara Jawa. Karakter
tersebut diproposalkan sebagai karakter independen karena sifat dwi-arah
angka Arab.
^4 Tanda baca khusus memiliki banyak varian karena sifatnya yang ornamental, dihias berdasarkan selera dan kemampuan penulis.
Tanda baca arkais
Tirta tumétés dan
Isèn-isèn adalah semacam tanda koreksi yang berguna untuk menandakan salah tulis.Namun dalam penulisan digital, kedua karakter ini sudah tidak
dipergunakan lagi. Dalam penulisan manuskrip, apabila terjadi kesalahan
penulisan, maka penyalin mengoreksi bagian yang salah dengan menulis
tanda tersebut sebanyak tiga kali.
Tirta tumétés digunakan oleh penulis Yogyakarta, sementara
Isèn-isèn digunakan oleh penulis Surakarta. Sebagai contoh, seorang penyalin naskan ingin menulis
pada luhur namun salah tulis menjadi
pada wu..., maka penyalin akan melanjutkan dengan menulis
pada wu---luhur. Penyalin dari Yogyakarta menulis:
, sementara penyalin dari Surakarta akan menulis:
Aksara Jawa Hanacaraka itu berasal dari aksara Brahmi yang asalnya
dari Hindhustan. Di negeri Hindhustan tersebut terdapat bermacam-macam
aksara, salah satunya yaitu aksara Pallawa yang berasal dari Indhia
bagian selatan. Dinamakan aksara Pallawa karena berasal dari salah satu
kerajaan yang ada di sana yaitu Kerajaan Pallawa. Aksara Pallawa itu
digunakan sekitar pada abad ke-4 Masehi. Di Nusantara terdapat bukti
sejarah berupa prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur, ditulis dengan
menggunakan aksara Pallawa. Aksara Pallawa ini menjadi ibu dari semua
aksara yang ada di Nusantara, antara lain: aksara hanacaraka , aksara
Rencong (aksara Kaganga), Surat Batak, Aksara Makassar dan Aksara
Baybayin (aksara di Filipina).
Konon sejarah yang berkembang di bumi Nusantara ini mengenai
munculnya aksara Jawa dilatarbelakangi dari cerita pada jaman dahulu, di
Pulau Majethi hidup seorang satria sakti mandraguna bernama Ajisaka.
Sang Satria mempunyai dua orang punggawa, Dora dan Sembada namanya.
Kedua punggawa itu sangat setia kepada pemimpinnya, sama sekali tidak
pernah mengabaikan perintahnya. Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan
pergi berkelana meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani oleh
punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau
Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan
bahwa Sembada tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun
kecuali kepada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan
perintahnya.
Pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur,
tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan. Rajanya bernama
Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana.
Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya
terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa
potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan kepada
Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang
Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus
Sang Patih untuk menanyakan kepada Ki Juru Masak. Setelah mengetahui
bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu
memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari
rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar
mempunyai kegemaran yang menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia.
Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis
dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan beubah menjadi wilayah yang
angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya,
sisanya lari menyelamatkan diri. Sang Patih pusing memikirkan keadaan,
karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya.
Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya Dora tiba di
Medhangkamulan, heranlah Sang Satria melihat keadaan yang sunyi dan
menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat
keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka
lalu menghadap Rekyana Patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi
santapan Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan
karena merasa sayang bila Ajisaka yang harus disantap Sang Prabu, namun
Ajisaka sudah bulat tekadnya, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap
Sang Prabu. Sang Prabu tak habis pikir, mengapa Ajisaka mau menyerahkan
jiwa raganya untuk menjadi santapannya. Ajisaka mengatakan bahwa ia rela
dijadikan santapan sang Prabu asalkan ia dihadiahi tanah seluas ikat
kepala yang dikenakannya.
Di samping itu, harus Sang Prabu sendiri yang mengukur wilayah yang
akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka
kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh
ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu
Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga
akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala tersebut kemudian
dikibaskan oleh Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut.
Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi
raja di Medhangkamulan.
Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus
Dora pergi kembali ke Pulau Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh
Sembada. Setibanya di Pulo Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan
bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka. Sembada tidak
mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka
ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah
Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya.
Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti,
peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai
keduanya sama-sama tewas.
Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu
Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa
kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara
untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu, yang bunyinya
adalah sebagai berikut: